Kuwait, Yordania dan Optimisme Iwan Bule

- Rabu, 2 Maret 2022 | 13:08 WIB
Pemain timnas Indonesia U-23  (Foto: laman PSSI.org)
Pemain timnas Indonesia U-23 (Foto: laman PSSI.org)

LOMBOK INSIDER - Sebagaimana umumnya negara-negara teluk, Kuwait dan Yordania mendapat sokongan penuh pemerintahnya untuk mencapai prestasi terbaik. Karena bagi mereka sepak bola adalah jalan sutra untuk memperlihatkan eksistensi sebagai bangsa di kancah dunia.

Kuwait mengawalinya secara all-out paruh terakhir 1970-an. Sebagai penggemar sepak bola, Emir Kuwait (1977-2006) Amir Jabir al-Ahmad al-Jabir Al Sabah adalah tokoh yang dianggap paling berperan membangun sepak bola Kuwait. Bersama adiknya presiden federasi sepakbola Kuwait (KFA) waktu itu, Syeikh Fahid Al-Ahmad Al-Sabah, Emir Kuwait mendorong percepatan peningkatan prestasi timnas Kuwait.

Baca Juga: IHSG Berbalik Melemah 0,58% di Perdagangan Sesi I

Pada 1978 KFA mendatangkan pelatih kaliber dunia asal Brasil, Carlos Alberto Parreira. Carlos Alberto (yang kemudian menjadi pelatih timnas Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan membawa Brasil juara Piala Dunia 1994) sukses membawa Kuwait juara Piala Asia 1980 dan tampil di Piala Dunia Spanyol 1982.

Salah-satu puncak kecerahan timnas Kuwait adalah saat mereka lolos ke semifinal Asian Games Seoul 1986 ketika diarsiteki mantan pelatih Hongaria di Piala Dunia 1986, György Mezey. Di semifinal Kuwait kalah 4-5 (2-2) dari Arab Saudi lewat adu pinalti. Pada perebutan medali perunggu Kuwait mengalahkan Indonesia (5-0), yang dilatih Bertje Matulapelwa.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp 10 Ribu di Perdagangan Rabu (2/3)

Dalam beberapa kesempatan kemudian, ada beberapa pertanyaan wartawan kepada Bertje, mengapa bisa kalah 0-5. "Pemain kelelahan," kata Om Bertje. Kelelahan atau ketidakbugaran pemain memang menjadi salah satu faktor yang ditakuti setiap pelatih. Adolf Kabo dan kawan-kawan waktu itu tampil spartan di Asian Games Seoul 1986. Di fase grup menang 1-0 atas Malaysia, imbang 1-1 versus Qatar dan kalah 0-2 dari Arab Saudi.

Di perempat final Ponirin Meka dll menaklukkan Uni Emirat Arab 4-3 (2-2) lewat adu penalti. Sebelum takluk 0-4 dari tuan rumah Korsel (juara Asian Games 1986) di semifinal. Tapi dengan tim yang sama, Bertje sukses membawa Indonesia juara SEA-Games Jakarta 1987 untuk kali pertama.

Baca Juga: Seorang Pria di Dompu Inisial TF Ditemukan Tewas di Kebun Jagung

Lalu apa kelebihan Kuwait di era emasnya itu? Karakter permainan ala Brasil yang ditanamkan Carlos Alberto Parreira selama lima tahun (1978-1983) menjadi sumber utama kekuatan Kuwait. Setelah era itu Kuwait terus meredup.

Halaman:

Editor: Usman Jayadi

Sumber: PSSI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tragedi Kanjuruhan, Kapolda Jawa Timur minta maaf

Selasa, 4 Oktober 2022 | 21:54 WIB
X