Untuk kebersamaan penentuan awal Ramadan, Muhammadiyah tawarkan kalender Islam global tunggal

- Rabu, 25 Januari 2023 | 11:01 WIB
Buah kurma yang selalu disajikan saat bulan Ramadan tiba. Muhammadiyah tawarkan kalender Islam global tunggal untuk menentukan awal Ramadan. (pexels/naim benjelloun)
Buah kurma yang selalu disajikan saat bulan Ramadan tiba. Muhammadiyah tawarkan kalender Islam global tunggal untuk menentukan awal Ramadan. (pexels/naim benjelloun)



LOMBOK INSIDER- Muhammadiyah tawarkan konsep kalender Islam global tunggal agar umat Islam seluruh dunia satu persepsi dalam  penentuan awal Ramadan, 1 Syawal dan hari arafah.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, mengatakan, dengan adanya kalender Islam global tunggal  ini diharapkan umat Islam seluruh dunia dapat melakukan selebrasi keagamaan secara serempak menyambut momen-momen penting, seperti awal Ramadan, Idulfitri dan Iduladha.

Dikatakan tokoh Muhammadiyah ini, dengan kehadiran kalender Islam global tunggal akan semakin menguatkan Islam sebagai ummah wahidah atau umat yang satu padu sebagaimana tercantum dalam QS. Al Mu’minun: 52 dan Al Anbiya: 92.

Baca Juga: Kemungkinan Perbedaan Awal Ramadan, Kemenag: Tunggu Hasil Sidang Isbat

Dia menjelaskan, kalender Islam merupakan penanda hari yang diajarkan agama Islam dan berbasis lunar, yakni perjalanan bulan mengelilingi bumi. Dia menjelaskan,  kalender Islam ada dua, yaitu global dan lokal.

Kalender Islam lokal merupakan aturan penanggalan yang bersifat parsial-lokal seperti kalender yang dikeluarkan Kemenag, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lain-lain. Kalender versi ini sangat potensial melahirkan perbedaan penanggalan terutama di bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Sementara kalender Islam global tunggal memiliki dua macam, yaitu kalender global zonal, dan kalender global tunggal. Kalender global zonal berarti kalender yang membagi dunia tempat berlaku kalender  menjadi beberapa zona.

Baca Juga: Terkait Perbedaan Awal Ramadan dan Idul Fitri 1443 H, MUI Pusat Ajak Saling Menghormati

Misalnya, Nidlal Qassum menawarkan kalender Islam global dengan konsep qaudro-zonal, Mohammad Ilyas menawarkan konsep trizonal, dan Mohammad Syaukat ‘Audah mengenalkan konsep dwizonal.

Ketiga konsep kalender Islam ini nampaknya masih memperlihatkan  pembagian wilayah penanggalan yang memungkinkan adanya perbedaan mutlak.

Kalender Islam global tunggal (bukan zonal) merupakan kalender yang memiliki prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia seperti ditawarkan Jamaluddin Abd ar-Raziq, yang kemudian menjadi kesepakatan para ulama dalam kongres di Istanbul tahun 2016.

Bagi Syamsul, konsepsi yang ditawarkan Abd ar-Raziq ini merupakan satu bentuk yang jelas dari kalender Islam global dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadan 2 April 2022, Ini Penjelasannya!

“Kalender global adalah kalender yang lintas kawasan, tapi kalender global itu ada yang global dan ada yang zonal, zonal itu yang membagi-bagi dunia ini menjadi beberapa zona, sedangkan kalender islam global  tunggal  adalah kalender Islam dengan prinsip satu hari satu tanggal  di seluruh dunia,” jelas Syamsul dalam seminar yang diselenggarakan Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU), Sabtu(21/01/2023).

Menurut Syamsul, arti penting kehadiran kalender Islam global tunggal ini disebabkan karena umat Islam di abad sekarang hidup  dalam suatu dunia global yang sudah menyatu.

Menurutnya, aneh bila umat Islam masih hidup dalam kondisi yang tidak dapat menyatukan sistem tata waktu dalam bentuk kalender unikatif.

Baca Juga: Safari Ramadan 2022, ITDC bagikan ribuan paket Ramadan di 6 desa penyangga The Mandalika

Pentingnya gagasan kalender Islam global ini ditopang beberapa alasan, salah satunya penentuan hari arafah.

Absennya kalender Islam global tunggal  dalam menentukan waktu ibadah di seluruh dunia menyebabkan puasa Arafah seringkali jatuh pada hari yang berbeda dengan hari wukufnya hujjaj di Mekah.

Jatuhnya tanggal 9 Zulhijjah di beberapa belahan bumi, terutama negara-negara Islam, seringkali tidak sama dengan 9 Zulhijjah di  tanah suci.

Baca Juga: Tradisi unik masyarakat Lombok sambut bulan Ramadan, termasuk mandi junub sebelum puasa

Sementara itu dilansir dari laman Kementerian Agama, Ketua Forum Komunikasi  
dan Kerja sama Islamic Centre (FKKIC) Sumut, DR Zainul Fuad, berharap ulama dan tokoh ormas Islam  menyatukan persepsi dalam  penentuan tanggal 1 Syawal dan tidak terburu-buru mempublikasikan hasil hisab (perhitungan) dan rukyat (pemantauan bulan) yang dilakukan sebelum "diijma`kan" atau disepakati bersama.

Kesepakatan  diperlukan agar tidak menimbulkan kebingungan dan adanya kebersamaan bagi umat islam dalam merayakan Idul Fitri. Malah, kata Fuad, perlunya kesepakatan terhadap 1 Syawal tersebut lebih penting dibandingkan dengan penetapan 1 Ramadhan.  

Dalam 1 Syawal itu ada hukum lain yang menyertai pelaksanaan puasa tersebut."Bagi ummat islam haram hukumnya jika masih  berpuasa pada 1 Syawal," katanya.

Baca Juga: OASE Kabinet Indonesia Maju Harap Masyarakat Tetap Bugar dan Sehat di Bulan Ramadan

Menurut dia, setiap ulama memiliki kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang berbeda dalam proses hisab dan rukyat disebabkan berbedanya metodologi dan posisi bulan yang dilihat  dalam proses perhitungan.

Selama perbedaan tersebut tidak terlalu jauh hasilnya, menurutnya sebaiknya ulama dan ormas islam mengijma'kan pendapat mereka.***

Editor: Sasprans Lombok Insider

Sumber: Laman Muhammadiyah, Kementerian Agama RI

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X