Joki cilik di ajang Lomba Pacuan Kuda MXGP Sumbawa diprotes pemerhati anak

- Sabtu, 25 Juni 2022 | 07:44 WIB
Joki cilik saat beraksi di Lomba Pacuan Kuda MXGP Samota Sumbawa
Joki cilik saat beraksi di Lomba Pacuan Kuda MXGP Samota Sumbawa

Ditambah Bang Zul, bahwa tradisi pacuan kuda di Pulau Sumbawa, tidak hanya berbicara adat dan budaya serta kearifan lokal masyarakat setempat. Akan tetapi ada banyak aspek yang ada didalamnya.
Salahsatunya aspek sosial kemasyarakatan.

"Secara turun temurun, keluarga pemilik kuda ini terus menjaga silaturahmi para leluhurnya, baik di arena pacuan maupun di luar kehidupan sehari-hari. Ini yang unik di tradisi pacuan kuda," ucap Bang Zul.

Begitupun sektor ekonomi kemasyarakatan juga bergerak. Puluhan UMKM dan pedagang yang menjual dan saling membutuhkan di arena pacuan kuda. Ini menjadi sektor penggerak ekonomi masyarakat selama beberapa hari pelaksanaan lomba tersebut.

Selain itu, Doktor Ekonomi Industri tersebut juga menjelaskan bahwa keberadaan joki cilik ini juga merugikan bagi anak-anak dari aspek pendidikannya.
Apalagi saat musim pacuan kuda ini berlangsung Seminggu bahkan lebih, praktis banyak yang tidak masuk sekolah.

Untuk itu, pemerintah daerah sudah mengaktifkan sekolah malam, untuk para joki cilik yang tertinggal pelajaran disekolahnya. Ada guru yang ditugaskan untuk mengajar selama perlombaan berlangsung.

"Sehingga para joki tidak tertinggal dalam hal pendidikan. Karena pendidikan penting untuk masa depan mereka," tambah Bang Zul.

Untuk merubah joki cilik dan pacuan kuda yang sudah mengakar di kehidupan masyarakat ini menjadi tantangan tersendiri.

"Kita sedang berbicara dengan para komunitas kita yang paling bawah. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, karena kalau bahasanya berlebihan tidak mungkin. Karena semakin dilarang akan tetap juga dilakukan. Jadi intinya memang butuh proses," ungkap Bang Zul

Halaman:

Editor: Siti Aeny Maryam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X