Mengharukan! Kisah petani melon ini dari mengamen sampai jadi konsultan tanaman melon

Junita Sianturi
- Rabu, 3 Agustus 2022 | 13:41 WIB
Fendi setiawan petani melon sistem green house saat menceritakan pengalamannya.  (tangkapan layar youtube @telur pecah)
Fendi setiawan petani melon sistem green house saat menceritakan pengalamannya. (tangkapan layar youtube @telur pecah)


Lombok Insider - Menjadi buruh tani di lahan tetangganya hingga mengamen di jalanan dilakukan pria berusia 32 tahun ini hanya untuk membeli pupuk tanaman. Mengawali sebagai petani sayur, jatuh bangun, rugi, hingga gagal panel pernah dialami warga Wates, Kabupaten Blitar ini.

Meski kerap rugi tak membuat Fendi Setiawan menyerah untuk menggapai mimpinya. Membahagiakan keluarganya, dengan mengumpulkan modal dari menjadi buruh tani tanam melon, membuat dirinya membangun Green House Indonesia.

Baca Juga: Ciri-ciri istri anda pernah 'bobo manis' dengan pria lain, catat wahai suami-suami!

Ide membangun green house lantaran setiap kali menanam di lahan terbuka  selalu gagal, bahkan utangnya di bank terus bertambah.

“Sempat dulu pinjam dari bank buat nanam, terus balik lagi, nanam lagi, bangkrut malahan nambahi utang. Nanam lagi bangkrut lagi begitu kalau nanam di lahan terbuka,” ujarnya dikutip dari channel youtube pecah telur yang tayang pada 27 Juli 2022.

Awal menjalani kehidupan, kondisi perekonomian pria ini tak seenak sekarang, dimana dirinya bersama istrinya harus menahan lapar.

Baca Juga: Di balik keindahan Gunung Inerie Nusa Tenggara Timur, ada kisah patah hati yang menyedihkan...

 “Jadi saya dan istri harus menghentikan atau menahan apa yang kita inginkan dimakan untuk hari itu, demi keluarga ku. Sebelum nikah saja, aku beli mie instan itu cuma satu buat makan aku sama adek ku,” ceritanya.

Uang sebesar Rp25 juta hasil dari tabungan selama ini awalnya ingin membangun rumah untuk keluarga dijadikannya modal untuk menanam buah melon.

“Rp22 juta untuk modal menanam melon, di hamparan, yang tiga juta buat makan selama dua bulan harus cukup gak boleh kurang,” ujarnya.

Lokasi green house tanaman melon milik petani bernama Fendi Setiawan. (tangkapan layar youtube @telur pecah)
Baca Juga: Kalau Sudirman punya Citayam Fashion Week, Bandung pun ada Braga Fashion Week

Namun saat panen dirinya mengalami gagal lantaran terkena hujan dan serangan hama dan gagal total.

“Aku cuma dapat Rp3 juta, nangis istriku mas, modal ku gak balik, aku harus gimana nggak punya solusi, satu orang pun gak ada yang nolong,” ujarnya.

Meski demikian tak membuat dirinya menyerah dengan minat dan tekadnya yang kuat. Akhirnya dirinya memutuskan menanam buah melon dengan sistem green house. Dengan keterbatasan modal, membuat dirinya memutar otak dengan menjadi buruh tani di lahan tetangganya serta mengamen di jalan.

Baca Juga: Begini janji suci pangeran Dubai untuk Laudya Chintya Bella

"Untuk apa, nyari modal untuk beli pupuk gitu, sempat ngamen tapi alhamdullilah sejak ada green house ini agak lumayan juga, bahkan tetangga ikut terbantu," kata Fendi Setiawan.

Saat membangun lahan green house ini, Fendi Setiawan yang tak memiliki modal besar ini membuat dirinya turun tangan sendiri membangun green house ini, mulai dari mencari bambu di hutan hingga memotongnya menjadi kecil.

Usai menjalani pekerjaan menjadi buruh tani, dirinya menyempatkan diri selama tiga jam  untuk terus membangun lahan tanaman melon dengan sistem green house.

Baca Juga: Malam pertama dengan Babah Arab, TKW cantik ini malu-malu kucing dan dibuat sampai menangis

“Latar belakang saya ini tidak punya apa-apa, jadi dulu saya bangun sendiri bangunan green house ini. Jadi tiap tiga jam saat bangun green house hingga akhirnya sampai sekarang besarnya,” tuturnya

Meski terus gagal, tak membuat Fendi Setiawan menyerah. Ia terus belajar mengembangkan dan berkalobarasi dengan petani melon di luar daerahnya.

“Aku nanam pertama belum tahu ilmu tentang dunia melon ini, dulu juga gagal-gagal terus sama saja, jadi kita terus-terus belajar mengembangkan dan berkalobarasi dengan teman di luar,” ceritanya.

Selain harus menahan lapar, parahnya lagi ia pernah ditipu orang saat panen, dimana setiap mengirim barang, orang tersebut pergi menghilang.

“Kita itu pernah ditipu orang tapi semenjak itu kita pernah mendapatkan pengalaman disaat kita besar,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Junita Sianturi

Sumber: youtube.com/watch?v=FK91qLR1qdc

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X