• Sabtu, 22 Januari 2022

Saat Dunia di Ambang Krisis Energi, Indonesia Nikmati Kenaikan Harga Minyak Mentah dan Panen Dollar

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 07:18 WIB
Kilang minyak alami kelangkaan pasokan akibat badai di beberapa tempat di dunia.  (LombokInsider.com)
Kilang minyak alami kelangkaan pasokan akibat badai di beberapa tempat di dunia. (LombokInsider.com)

LombokInsider.com - Krisis energi global yang disebabkan oleh cuaca dan kebangkitan permintaan semakin memburuk, menimbulkan alarm menjelang musim dingin, ketika lebih banyak energi dibutuhkan untuk menyalakan dan memanaskan rumah. Pemerintah di seluruh dunia berusaha membatasi dampaknya terhadap konsumen, tetapi mengakui bahwa mereka mungkin tidak dapat mencegah lonjakan tagihan, lapor CNN, Kamis, 7 Oktober 2021.

Gambaran yang lebih rumit adalah meningkatnya tekanan pada pemerintah untuk mempercepat transisi ke energi yang lebih bersih ketika para pemimpin dunia bersiap untuk pertemuan puncak iklim kritis pada bulan November.

Di China, pemadaman bergilir untuk penduduk sudah dimulai, sementara di pembangkit listrik India berebut batu bara. Pendukung konsumen di Eropa menyerukan larangan pemutusan sambungan jika pelanggan tidak dapat segera melunasi utang mereka.

Baca Juga: CNN Rilis 50 Restoran Terbaik Dunia, Sayang Indonesia Tidak Masuk, Ini Daftarnya

Berkah bagi Indonesia

Menipisnya pasokan minya bagi dunia, membawa berbah bagi Indonesia karena harga minya mentah Indonesia naik USD4,40 per barel. Indonesia pun panen dollar. 

Dikutip dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kamis, 7 Oktober 2021, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada bulan September 2021 mengalami kenaikan sebesar USD4,40 per barel menjadi USD72,20 per barel dari bulan Agustus 2021.

"Lonjakan harga ini menyusul terganggunya pasokan minyak dunia sehingga mempengaruhi peningkatan harga minyak di pasar internasional," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi.

Adanya peningkatan harga minyak di pasar internasional, sambung Agung, disebabkan karena berhentinya aktivitas produksi minyak mentah di kawasan Teluk Meksiko AS akibat Badai Ida dan Badai Tropis Nicholas yang berdampak pada potensi kehilangan pasokan minyak mentah mencapai 30 juta barel.

Baca Juga: Studi mengkonfirmasi berkurangnya kekebalan dari vaksin Covid-19 Pfizer

Halaman:

Editor: Kasan Mulyono

Sumber: Esdm, CNN

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mata Uang Kripto Merosot Drastis Jelang Akhir Pekan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 18:31 WIB

Kurs Rupiah Menguat 0,03% Selama Sepekan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 14:50 WIB

IHSG Melonjak di Akhir Perdagangan Pekan Ini

Jumat, 21 Januari 2022 | 17:47 WIB

Mayoritas Bursa di Asia Bergerak Melempem

Jumat, 21 Januari 2022 | 14:32 WIB

Harga CPO Kembali Sentuh Rekor Tertinggi

Jumat, 21 Januari 2022 | 14:14 WIB

Harga Berbagai Uang Kripto Terus Merosot

Jumat, 21 Januari 2022 | 12:01 WIB

Harga Emas Spot Turun Tipis 0,07%

Jumat, 21 Januari 2022 | 11:26 WIB

Harga Minyak Mentah Ditutup Melemah Tipis

Jumat, 21 Januari 2022 | 10:58 WIB

Indeks Saham AS Naik di Pasar Spot

Jumat, 21 Januari 2022 | 10:22 WIB

Kurs Rupiah Menguat di Level Rp 14.356 Per Dolar AS

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:29 WIB
X